26 Januari 2015

Kesel

Kesel,
Bukan rasa jengkel seperti bahasa Indonesia memahamkan kalian. Tapi kesel bahasa Jawa.

Ya, capek.
Istilah anak muda sekarang, MUNGKIN KAMU LELAH.

Ya, saya lelah. Lelah berlari untuk selalu tampil serasi, menyamakan langkah dengan target.

Bego, ga usah sok serasi dengan target kalo nggak mau lelah.
Kamu yang bego! Lupa ya kalo target ini kamu yang pilih? Target ini yang akan membahagiakanmu? Target ini yang di satu sisi mengubah duniamu?

Udah, nggak usah mengeluh capek! Toh, minggu depan si target ini akan menampilkan sisi lainnya. Sisi yang bikin banyak orang iri karena konon kabarnya raksasa. Ahh... andai mereka tau, si bayi raksasa ini harus dibayar mahal dengan KESEL.

Kalo sudah gini, bawaannya pengen balik aja ke Rindam Jaya. Disana kesel juga sih, kesel fisik. Disini? Kesel batin sob! Ada juga fisiknya. tapi nggak gede-gede amat. Bhahaahahahah...

Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah :286)


Kantor, 27 Januari 2015, pukul 01.38 am

*tulisan ini dipersembahkan oleh tekanan dari 'ibu besar' dan kangen sama Rindam Jaya dan isi-isinya serta sodara2 siswa-siswi BPJS Kesehatan gelombang 3.

23 Januari 2014

Assalamualaikum Bali... (Day 5: Bedugul & Tanah Lot)

 
copy from www.aluxurytravelblog.com

Tidur malam ini Alhamdulillah lelap banget. Selama di Bali kayaknya tidur berkualitas mulu tiap malam. Yaiyalah, capek sob! Kalo kemarin saya yang bersemangat karena mau ke tempat impian sejak kecil, sekarang giliran Lia. Dia sudah nggak sabar banget ke Bedugul. Anak itu suka daerah pegunungan yang sejuk. Bedugul, terkenal dengan 3 danau yang berada di pegunungan. Salah satu yang terkenal itu danau beratan yang ada Pura bernama Pura Ulun Danu Beratan. Ituloh, yang ada di belakang uang 50 ribu. Nah, ingat kan? 

Sesuai sms Bu Sukma semalam, pagi ini masuk sms berisi nama dan no hp supir yang akan membawa kami melancong hari ini. Namanya Pak Erik, kami bertemu jam 9 am di monumen bom Bali depan lorong. Awalnya kami mau di jemput di losmen, tapi kami nolak karena rempong kalo mobilnya harus masuk lagi di jalan Poppies 2 yang sempit bin macet. Mending kami saja yang olahraga pagi-pagi jalan kaki ke monumen bom Bali.

Kalo di hari selasa lalu kami sarapan jam 7.30 am, kemarin kami sarapan jam 8 am, hari ini kami sarapan agak siang jam 8.30 am. Ruang makan seramai kemarin dan kami nggak kebagian meja kosong lagi. Tapi di salah satu meja ada 2 cewek sebaya kami dan salah satunya berhijab. Kami pilih duduk disitu daripada duduk bareng cowok berkacamata yang duduk seorang diri. 

Permisi numpang duduk dulu ama gadis-gadis itu. Sambil makan, supaya suasananya nggak kaku, ya kami basa-basi nanya-nanya kepo. Ternyata mereka dari Jakarta, datang berdua saja, baru tiba semalam, dan pagi ini mereka langsung berangkat ke Bali timur nginap disana besok baru pulang kembali ke Kuta. Doh, a lil bit rempong i think, tapi lebih puas pastinya. Sedang ngobrol-ngobrol cantik, cowok kacamata di meja sebelah nimbrung. Yaudah, terjebaklah dia di obrolan basa-basi kami. 

Cowok itu dari Kalimantan, lupa kota apa tepatnya, dan dia sedang backpacking tur Jawa dan akan berakhir di Lombok. Beuuh, senior nih *respect. Oiya, pas cowok kacamata tahu kami dari Makassar, dia langsung ngaku kalo orang tuanya orang Bugis tapi belum pernah sama sekali injak tanah Bugis. Di Kalimantan kan banyak perantau asal Bugis. Katanya, mamanya orang Bone, papanya orang Pinrang (atau sebaliknya? lupa). Wuih, saya langsung nyeletuk ‘nih orang Bone dan Pinrang!’ sambil nunjuk Mute dan Lia. Kebetulan banget kan?

Kami cerita ke gadis Jakarta itu untuk keliling ke objek wisata, kami naik Sarbagita, semacam Trans Jakarta. Dan mereka tertarik banget dengan Sarbagita ini. Mereka belum tahu kalo ada semacam busway di Bali. Mereka nampak berminat untuk mengikuti jejak kami berkeliling dengan Sarbagita yang murah dan mewah. Sebenarnya gadis Jakarta itu butuh info lebih lagi tentang Sarbagita tapi mereka harus terburu-buru sarapan karena mobil rentalnya udah nungguin untuk antar mereka ke Bali timur. Yaudah, sampai jumpa di meja makan hari sabtu depan.

Oiya, trik sarapan kami seperti kemarin-kemarin, hari itu nggak kami terapkan dulu. Nggak malu-maluin lah sama gadis Jakarta dan senior Kalimantan itu. Roti dan telur ceplok dari losmen hari ini kami habiskan karena rencananya kami akan makan siang di warung makan di Bedugul. Bekal kami hari itu hanya snack-snack yang hanya berkurang dikit sejak hari pertama kami datang. Padahal Lia dan Mute bawa banyak banget cemilan. 

Sedang asyik sarapan, senior Kalimantan minta tolong ke Lia untuk fotoin dia dengan segala hidangan sarapan paginya. Ahahahaha. Itulah nggak enaknya solo traveling. Kalo mau foto harus pake tangan sendiri ato tebal muka minta orang lain fotoin, ato kalo tajir dikit, ya beli minimal monopod. Selesai sarapan, masih ada waktu sampai jam 9 am. Ngobrol dulu lah di kamar sambil penuh-penuhin batere kamera. 

Jam 8.50 am Pak Erik udah nelpon. Waduh, mana kami masih leyeh-leyeh di kamar. Terbirit-biritlah kami ke monumen bom Bali. Tiba di monumen, kok ga ada mobil yang sedang parkir? Saya SMS lagi Pak Erik kasitau kalo kami udah di monumen. Ternyata Pak Erik udah nunggu di parkiran pas samping kanan monumen. 

Nampaknya Bu Sukma udah informasikan ke Pak Erik kalo ciri-ciri kami itu gampang dikenali, 3 cewek berhijab semua, karena Pak Erik langsung lambaikan tangan pas lihat kami. Kalo Pak Erik nggak lambaikan tangan, mungkin kami nggak tahu kalo bapak-bapak di samping mobil avanza silver itu partner perjalanan kami hari itu.

Setelah kenalan singkat, meluncurlah kami ke Bedugul. Mamammiaa! Saya duduk di depan, Mute dan Lia di belakang. Awalnya saya pikir Pak Erik itu orangnya pendiam sedikit kaku. Ternyata Pak Erik ini orangnya rame juga, cocoklah sama kami yang awalnya malu-malu juga tapi ujung-ujungnya malu-maluin. Oiya, Pak Erik muslim juga lho. Kalo nggak salah ingat, ibunya itu orang Bali, ayahnya Jawa. 

pemandangan sepanjangn perjalanan ke Bedugul
Selama perjalanan ke Bedugul yang wonderful, mulut nggak pernah berhenti ngobrol. Banyak banget pengetahuan baru yang kami dapat dari Pak Erik tentang budaya Bali, mitos, sesajen, jalanan, arsitektur, sejarah, toleransi, keberagaman, perlunya berpikiran terbuka, hal mistis, pengalaman-pengalaman Pak Erik, mengajarkan sedikit bahasa Bali, sampe hal-hal guyon. Mantaplah perjalanan kami pagi menjelang siang itu. 

Kalo kehabisan bahan obrolan, pasti ada aja yang menarik di jalan yang bisa di diskusikan. Seperti hari itu, setiap Pura yang kami lewati banyak orang berpakaian sembahyang. Yang pria pake sarung, kemeja putih, dan ikat kepala khas Bali. Yang wanita pakai kebaya putih simpel, dan kain yang diikat di pinggang khas wanita Bali. Kata Pak Erik, mereka mau ngaben. Wooow! Padahal Mute pengen banget lihat langsung prosesi ngaben. 

Tapi kenapa tiap mayoritas Pura yang kami lewati ada upacara ngaben? Kata Pak Erik, hari itu pasti sedang hari baik menurut kiai-nya sodara-sodara kita yang beragama Hindu yang disebut Bedande (cara baca huruf ‘e’ nya kayak ngucapin lemah, bukan kayak ngucapin merah) karena hari ini banyak upacara ngaben. Selain upacara ngaben, hari baik menurut Bedande ini juga banyak dimanfaatkan untuk nikah. Iya, ada juga beberapa Pura yang kami lihat semarak dengan hiasan janur kuning tanda ada upacara nikah. Wouuuw.

Masih kata Pak Erik, kalo mayat mau di-aben, harus nunggu hari baik menurut Bedande di tiap Pura. Kalo belum ada hari baik, mayatnya ‘disimpan’ dulu. Cara simpannya itu ada yang diawetkan secara medical, ada juga yang ditanam dulu sambil nunggu hari baik. Lha, gimana nasib mayat yang dikubur biasa kalo hari baiknya masih lama? Kata Pak Erik, biar sisa tulangnya yang di-aben, yang penting masih bagian dari tubuh si mayat, itu sah. Oooooooooooo.

Pak Erik juga ceritain tentang keluarganya, istrinya, anaknya, pekerjaannya dulu, pokoknya asyik. Cara Pak Erik berpikir juga kami kagumi. Open minded banget orangnya, dan penuh toleransi, khas orang Bali. Dia itu mutusin tinggal di Denpasar demi anak-anaknya. Bisa saja dia tinggal di Kuta, tapi hanya enak untuk dia dan istrinya, tapi nggak baik untuk perkembangan anak-anaknya. Yah, you know lah Kuta itu gimana. Kalo dipikir-pikir, betul juga ya. 

Berikut tanya jawab yang masih saya ingat, but correct me if I wrong ya? Kenapa di pinggir jalan banyak penjor alias hiasan tinggi-tinggi dari bambu yang indah di pinggir jalan? Karena beberapa minggu yang lalu ummat Hindu baru aja merayakan hari raya Galungan dan Kuningan. Kenapa di Bali banyak pohon beringin gede-gede? Karena menurut kepercayaan, pohon beringin itu ada penunggunya, jadi nggak boleh ditebang sembarangan, ada beberapa dikasi kain hitam putih kotak-kotak kayak catur itu, istilahnya ‘dibajui’. Sesajen tiap sembahyang itu tergantung jumlah pintu yang ada di rumah. Jadi kalo pemilik penginapan atau hotel, ya makin banyak juga sesajennya. Sesajen itu terdiri dari 4 macam bunga, makanan, dan dupa. Sembahyangnya tiap pagi dan sore hari. Seperti Islam, Hindu juga punya banyak aliran. Tapi mereka semua akur dan saling memberi masukan kalo ada masalah yang dihadapi. Nggak pernah ada yang saling hujat mengklaim dirinya yang paling benar, yang lain kafir. Mau lihat tari kecak nomor 1 di Bali? Datanglah di Uluwatu. Disana kesan mistisnya dapet, tebingnya eksotis, dan matahari tenggelamnya fantastis. Yaaah, kami udah kesana beberapa hari yang lalu Pak... don’t worry, tari kecak no 2 itu di Tanah Lot yang akan kami kunjungi sore nanti. Horre!

Kami juga diskusi tentang Miss World yang baru-baru ini sukses di Bali. Kata Pak Erik, FPI itu nggak bisa masuk ke pulau Bali karena pelabuhan Gilimanuk udah dijaga ketat. Jadi mereka nggak bisa kacaukan rangkaian acara Miss World. Kalo mereka berhasil masuk pulau Bali, kata Pak Erik, mungkin geger pulau indah ini. Bisa-bisa mereka dibakar hidup-hidup. Sereeem. 

Kata Pak Erik lagi, orang Bali itu open minded dengan segala jenis keberagaman dunia dan welcome dengan masuknya perbedaan di tengah-tengah mereka, yang penting mereka nggak mengganggu dan merusak alam Bali. Itu juga salah satu kunci kenapa sampai saat ini Bali menjadi ujung tombak pariwisata indonesia. Kami juga rasakan kok, betapa ramahnya orang-orang disini. Kami saja yang sesama orang indonesia terkesan, apalagi turis-turis yang dari negeri antah berantah itu?

Obrolan demi obrolan nggak pernah berhenti antara kami. Jalan pun sudah mulai menanjak dan pemandangannya makin indah khas pegunungan. Bedugul ini kayak Malino di Sulawesi Selatan. Berada di ketinggian, banyak pohon pinus, sering berkabut, malah waktu kami datang hujan sempat mengguyur. Pertanian khas daerah dingin juga ramai dijajakan di pinggir jalan kayak stroberi, jagung, kol, bunga-bunga, dll. 

Setelah mencapai puncak ketinggian, jalanan menurun sedikit, laluuu terpampang nyatalah danau Beratan yang luas dan indah itu. Whoaaaa! Keren banget! Beberapa menit, masuklah kami di kawasan danaunya. Parkir mobil dulu, trus capcus ke loket tiket. Kami berpisah dengan Pak Erik di parkiran yang akan ketemu beberapa jam lagi.

Tiket masuk ke kompleks danau Beratan itu 10 ribu, dan lagi-lagi kami dapat harga mahasiswa. Meheheheh! Pas beli tiket, eh hujan. Waduh, gimana nih. Udah udaranya dingin, hujan pulak. Mana Mute dan Lia nggak bawa payung. Kalo saya sih di ransel selalu ada payung. Akhirnya mereka sewa payung besar untuk berdua seharga 10 ribu rupiah yang hanya dipake beberapa menit karena hujan reda. Ayo lanjutkan perjalanan! 

Pura Ulun Danu Beratan
Duhai, kawasan danau beratan ini keren banget. Hijau dimana-mana, sejuk, dan yang paling mengagumkan itu Pura Ulun Danu-nya yang ada di tepi danau. Keren nggak ada lawan lah. Disini banyak banget turis Indonesia. Mereka kebanyakan datang berombongan se-bus besar. Ibu-Ibu heboh yang bikin kami geleng-geleng kepala pun banyak. 

segernya suasana sekitar danau Beratan
Sesaat setelah masuk kawasan danau, kami harus keluar lagi. Kenapa? Sandal Lia lemnya lepas, jadi dasar sandalnya tu misah dengan bagian atasnya. Pokoknya nggak bisa dipake lagi. Kebetulan samping loket tadi banyak penjual sovenir. Kami temani Lia beli sandal baru dulu, daripada nyeker all day long? Jadi deh Lia melancong dengan sandal baru hari ini. 
toko sovenir di kawasan danau Beratan
Lagi menikmati alam hijau dengan udaranya yang sejuk, ada tukang foto yang nawari kami berfoto di depan Pura Ulun Danu, harganya 15 ribu rupiah saja. Iya, langsung jadi saat itu juga. Rupanya fotografer itu membawa printer foto mini di tas kecilnya kemana-mana. Lihat-lihat hasilnya, bagus juga. Akhirnya kami foto sendiri-sendiri dan bertiga. So sweet bukan? 

tempat yang diabadikan di belakang uang 50 ribu
Berhubung saat itu belum terlalu banyak pengunjung, jadi kami bebas beberapa kali di foto tanpa ada gangguan orang lain yang nongol di foto kami. Setelah semua foto kami selesai, wuih datanglah rombongan besar Ibu-Ibu ‘rempong’ yang nampaknya berbeda kelompok tur. Karena ada yang berseragam baju daerahnya, ada juga yang berkostum bebas. Doh, heboh bukan mainan Ibu-Ibu itu. Belum apa-apa udah pose sana, pose sini, jerit-jerit panggil temannya untuk foto, gaya fotonya yang hhh... sudahlah ya? Agak risih dengan rombongan itu, kami menyingkir dari sekitar Pura dan jalan ke bagian lain dari kawasan danau Beratan. 

turis heran liat kelakuan ibu-ibu heboh
Kawasan ini nggak hanya danau Beratan yang indah dan Pura Ulun Danu yang eksotis. Ada juga Pura yang lebih kecil yang dipake sembahyang, dan kebetulan waktu kami datang pas ada yang sembahyang. Walopun banyak pengunjung dengan kehebohan masing-masing, orang-orang yang sembayang di Pura itu tetap khusyuk dengan ibadah masing-masing. Pengalaman perdana nih menyaksikan ummat Hindu sembahyang di Pura. Eksotis! 

ummat Hindu sedang ibadah
Lanjut jalan lagi, ada hutan mini dengan taman bunga beraneka warna, ada juga patung-patung hewan, dan masih banyak lagi yang cantik-cantik di kawasan danau Beratan. Cocok banget untuk detoks paru-paru yang terlalu banyak terpapar polusi. Sedang menikmatinya kawasan danau Beratan yang nyegerin jiwa raga, Masjid depan jalan mengumandangkan adzan. Wih, ini pertama kalinya di Bali kami dengar adzan berkumandang. 
cantik kan? apanya? Puranya...
Masjid depan jalan itu besar banget dan terletak di atas tebing. Jadi, kalo mau shalat harus naik berpuluh-puluh tangga dulu. Tapi view-nya keren, karena langsung menghadap ke Pura dan danau Beratan. Rencananya sih kami mau shalat zuhur aja disitu, tapi Pak Erik ngajak makan siang dulu. Okelah. 
weird? we know...
Awalnya Pak Erik nawarin makan di rumah makan sistem all you can eat dengan harga 60 ribu per orang. Begitu dengar penawaran itu, kami hanya cengengesan bego. Mana cukup uang kami kalo makan 60 ribu per orang? Kami jujur aja ama Pak Erik kalo kita makan yang murah aja, yang penting halal, rasa nomor dua deh. Ahahahah. Alhamdulillah, Pak Erik ngerti. Dia akhirnya muter-muter nyari makanan murah dan halal untuk tamu kerenya hari itu.

Bicara soal makanan, Pak Erik banyak ngasih masukan makanan-makanan khas Bali dan pastinya halal. Kami juga jadi beli pie susu khas Bali karena dapat info dari Pak Erik yang murah banget! Hanya 80 ribu rupiah isi 50 biji. Kalo di Khrisna, toko oleh-oleh terkenal di Bali, 21 ribuan dapat 9 biji. Pak Erik juga rekomendasiin kami makan soto ceker. Saya sih mau-mau aja, karena selama hidup belum pernah makan yang namanya soto ceker, ceker ayamnya aja sih pernah. Tapi Lia nggak mau, katanya ceker ayam itu nampak kayak kaki mayat, pucat, dingin, ngambang. Yaudah, untuk makan malam nanti kami sepakat untuk diantar di ayam betutu, makanan khas Bali. Mamamia lezatos!

Setelah muter-muter sampe masuk ke pasar Bedugul, kami akhirnya dapat warung makan murah meriah dan halal di kawasan Bali botanical garden. Rencananya sih kami mau kesana, tapi kata Pak Erik disana tuh kayak kebun raya biasa yang ada di seluruh Indonesia. Yaudah deh, kami nggak jadi kesana. Sebagai gantinya, Pak Erik rekomendasiin menghabiskan waktu di Tanah Lot. Disana itu super cantik katanya, dan kami nggak akan bosan menghabiskan sepanjang sore disana sampe matahari tenggelam. Sounds great! 

makan siang di Bali Botanical Garden
Di rumah makan Jawa ini, saya makan soto ayam yang lezat banget dimakan di cuaca hujan yang dingin kayak gini, Mute dan Lia makan nasi campur. Pak Erik hanya ngopi aja, sudah makan waktu di Bedugul katanya. Soto yang sheddaap ini hanya 17500 pemirsa. Abis makan, capcus ke Tanah Lot. 

Perjalanan ke Tanah Lot lancar jaya. Tapi hujan turun deras banget. Awalnya saya pikir hujan ini hujan yang sering turun di pegunungan saja. Tapi hujan nggak reda juga walopun Tanah Lot udah di depan mata. Waduh, gimana nih. Pas masuk ke kawasan Tanah Lot, hujan udah agak reda walopun masih gerimis. Sebelum melacong ke Pura Tanah Lot, Pak Erik membawa kami untuk shalat dulu. 

Nah, disini nih yang bikin melongo. Kami nggak liat bentuk Masjid atau mushallanya. Hanya ada deretan toko kecil yang menjual souvenir. Makin didekati, makin nampaklah keanehannya. Ternyata mushalla yang dimaksud Pak Erik itu 2 buah ruang toko yang diset sedemikian rupa jadi tempat shalat yang terpisah pria dan wanita. Seperti selayaknya mushalla di seluruh dunia ini, pasti ada tempat wudhunya kan? Nah, disini letak lucunya. Beberapa deret disamping mushalla itu ada toilet sekaligus tempat wudhunya, dan wudhu disini berbayar sob! Edun!

wudhu berbayar
Berhubung kami shalat zuhur lagi-lagi di masa injury time, abis shalat kami duduk-duduk dulu nunggu ashar. Gerimisnya masih agak deras. Wah, kacau ini kalo hujan nggak berhenti sampe matahari turun nanti. Matahari terbenam di Tanah Lot itu Subhanallah banget, emejing. Kami targetkan untuk dapat sunset tjakep disini karena di pantai Legian dulu mendung, di Uluwatu nggak sempat liat sunset, di Nusa Dua bukan tempatnya sunset, dan di pantai Kuta sunsetnya nggak maksimal karena lagi-lagi mendung, masa’ di Tanah Lot malah ujan gini?

Selesai shalat ashar, kami balik ke mobil untuk langsung menuju ke pura Tanah Lot. Masih agak jauh Tanah Lot-nya kalo dari tempat kami shalat, walopun sudah masuk kawasan Tanah Lot. Kata Pak Erik, kasian kalo kami mau jalan kaki masuk ke dalam, mana hujan. Di dalam ternyata ada tempat parkir juga selain di tempat kami shalat tadi. Alhamdulillah hujan sudah agak reda, tapi belum reda total ya. Alhasil (aih, bahasanya..) kami pake payung untuk bertiga. 

jalan menuju Pura Luhur Tanah Lot
Dari jauh udah kedengaran suara ombaknya. Whoaaaa... Tanah Lot cantik bangeeeet. Mirip sama Uluwatu. Ada Pura di tebing yang menjorok ke laut. Mungkin karena hari ini hujan, ombak makin jadi kencangnya. Awal kami masuk, belum terlihat Pura yang menjadi ikon Tanah Lot. Ada Pura yang berdiri tegak di ujung tebing, kalo nggak salah namanya Pura Batu Bolong. Namanya begitu mungkin karena Pura itu berdiri di tebing yang bagian bawahnya berlubang gede. Sempat terbengong-bengong dulu memandang laut dengan ombak heboh di bawah kami. 

di gerbang Pura Luhur Tanah Lot
Jalan lagi, nampaklah Pura Luhur Tanah Lot yang sesungguhnya. Subhanallah... superb! Keren banget! Walopun hujan-hujan gini, pengunjung tetap banyak yang mengunjungi Pura eksotis ini. Dengan semangat, kami turun menuju ke Pura Luhur Tanah Lot. Ternyata air sudah mulai pasang, ditambah ombak kencang yang terbang karena menghantam karang dan kadang menciprat ke arah pengunjung. Jadi mirip dengan water blow di pantai Nusa Dua. Nggak nyangka, di Nusa Dua nggak dapat water blow, eh di Tanah Lot kami dapat. Hahahah.
viola! Tahan Lot!
Lagi-lagi kami ditawari para fotografer untuk foto dan hasilnya langsung jadi. Tapi disini lebih mahal dibandingkan dengan foto di Pura Ulun Danu Beratan. Disini harganya 20 ribu sekali foto. Nggak ah, langitnya kurang eksotis. Seandainya langitnya nggak mendung kayak gini, pas matahari mau turun dan langit jadi orens, baru saya mau difoto. Alesan, padahal kere!

Saat sedang terbengong-bengong melihat ciptaan Allah yang emejing ini, ada bapak-bapak pake pakaian sembahyang yang memanggil kami untuk menyebrang ke arah kerumunan orang. Entah tempat apa itu dan kenapa banyak orang berkumpul. Tempatnya ada tepat di bawah tebing Pura Tanah Lot. Penasaran, kami dekati. Untuk menuju tempat itu, kami harus lewati air laut yang pasang. Cetek sih, cuma sampe mata kaki. Airnya segeer, dingin, enak banget main air sampe celana basah. 

Setelah nyebrang, nampaklah kalo kerumunan orang itu untuk mengambil air suci. Setelah ambil air suci, orang-orang itu dikasi beras di jidat dan bunga Bali di telinga. Aww... eksotis! Pak Erik sempat cerita tentang air suci ini. Katanya, kalo kami dikasi air suci, walopun itu ritual ummat Hindu, tapi kami berdoanya ke tetap ke Allah. Kami mengamati orang-orang dulu, kalo aman kami maju juga. 

Setelah giliran ibu-ibu berseragam biru muda, saya maju. Senyum-senyum dulu ke Bli-Bli yang bertugas disitu. Saya disuruh basuh tubuh di air suci yang mengalir lancar dari dalam tebing. Surprise! Air suci ini rasanya tawar lho! Padahal ada di tengah-tengah laut. Saya basuh wajah, tangan, kaki, kayak wudhu. Air suci itu juga saya pake kumur-kumur. Nah, disini dilemanya. Mau ditelan, ragu. Mau dimuntahkan, takut mengotori air suci ini. Setelah beberapa detik perang argumen dengan diri sendiri, akhirnya ditelan saja air yang terlanjur ada di mulutku itu. Perang batin tadi menjadi penyebab saya kurang konsentrasi untuk memohon sesuatu ke Allah. Nyahahahaha, bego kan?

ritual air suci
Setelah basuh-basuh, saya diciprat-cipratkan air oleh Bli. Abis itu, Bli yang satunya kasi beras di jidat dan bunga Bali yang diselipkan di hijabku. Yak, udah mirip Luhde lah saya *idih. Abis itu Bli-nya bilang untuk kasi sumbangan seikhlasnya. Karena dompet saya ada di mobil, uang Lia lagi lah yang di pake. Pas ambil uang, bingung juga mau ngasih berapa. Ah, 5 ribu aja deh. Pas naruh uang di cawan, ternyata uangku itu yang paling kecil nominalnya. Uang yang lain itu 20 ribu, 50 ribu, 100 ribu, malah ada uang dollar! Kampret! 

Nah, kini giliran Lia. Sama aja ritualnya dengan saya tadi. Lia juga nyumbang 5 ribu. Mute yang berikutnya juga nyumbang 5 ribu. Kere! Ahahaha.. setelah jauh dari kawasan air suci, kami kompak ngakak kalo ingat uang-uang yang ada di cawan itu. 

Setelah nyobain air suci, kami mau lihat lebih dekat lagi Pura Luhur Tanah Lot. Tapi sayang sekali, pintu Pura-nya terkunci. Yeah, seperti Pura-Pura lain, Pura Tanah Lot ini hanya bisa dinikmati dari luar saja, nggak bisa masuk ke dalam. Yaiyalah, ini kan tempat suci. Hanya yang mau sembahyang saja yang boleh masuk. Tapi tetap dong, foto-foto dulu. Abis itu, duduk-duduk menikmati deburan ombak gede disamping kami. Oiya, sebelum naik tangga menuju pura Tanah Lot, ada Bli yang jagain. Dia hanya membolehkan wisatawan yang sudah dibasuh air suci yang boleh mendekati Pura Tanah Lot. 

Di kejauhan saya liat ada semacam resort dengan beberapa tenda berdiri. Nampaknya ada yang mau nikah disana. Aih, keren sekali tempat itu. Lapangan terbuka dengan rumput hijau, pohon-pohon kelapa yang tinggi, view-nya langsung ke laut lepas dan tentunya Pura Luhur Tanah Lot. Envy! Mau juga nikah kayak gitu. Oke, fokus Asti!

Di seberang tempat air suci, ada juga kerumunan beberapa orang. Ternyata disana juga ada tempat semacam air suci ini, tapi itu ULAR SUCI. Jadi, orang-orang bayar di depan goa, trus masuk ke dalam goa untuk bertemu dengan ular suci itu. Idiiih, biar digaji 10 juta saya nggak mau masuk. Kalo 50 juta sih mau *yaelaah. 

Makin sore makin banyak saja pengunjung. Pengunjung disini campur, nggak didominasi oleh bule lagi. Banyak banget orang Indonesianya. Hujan juga udah berhenti total. Dan air makin pasang. Tadi waktu datang ke lokasi air suci, air masih se-mata kaki. Pas balik, air sudah sampe betis! Ombak besar bikin arus air kencang banget. Kalo nggak hati-hati, bisa jatuh dan basah kuyup. Banyak pengunjung yang harus tolong untuk nyebrang sama Bli petugas disana. 

Alhamdulillah, kami menyebrang air dengan selamat. Matahari makin turun, tapi nggak ada tanda-tanda kalau langit akan merona orens. Langit tetap kelabu. Tapi hati kami nggak pernah kelabu kok. Ahaydeu! 

Ada satu spot yang paling strategis untuk berfoto dengan latar Tanah Lot. Spot ini rame banget, banyak orang ngantri untuk duduk di batu sambil berpose semanis mungkin. Kalo mau foto, harus ngantri. Begitu juga kami, saling foto ganti-gantian. Tapi pengen juga punya foto bertiga, akhirnya kami minta ngincar orang yang bisa dimintai tolong untuk foto kami bertiga. Nyari orang yang wajahnya ramah, nggak sombong, dan orang Indonesia. Kan males banget kalo minta tolong ke orang asing yang nggak tahu bahasa Inggris apalagi Indonesia. Akhirnya setelah beberapa menit clingak-clinguk kayak mau nyopet, kami memutuskan untuk minta tolong ke pasangan muda yang kalo dengar logatnya sih dari Malaysia. Agak lama juga nunggu antrian, akhirnya giliran kami foto. Habis difoto, gantian dong. Mereka lagi yang berpose dan kami yang fotokan. Simbiosis mutualisme lah!
hasil simbiosis mutualisme
Pas lihat hasil foto bertiga tadi, kampret! Ada turis berwajah oriental yang merusak foto kami. Dia dengan kampretnya berada di belakang kami, nggak mau pindah. Udah tau ada orang foto, malah ikutan nengok ke kamera. Kampreeet!!! Mana susah nyari orang yang pas untuk dimintai tolong ambil foto. Doh! Kami ngulang lagi ngincer orang-orang yang kira-kira mau dimintai tolong ambil foto. Ada suami istri dengan anak cowoknya lagi foto-foto heboh. Nekat saja saya menawarkan diri untuk memegangkan kameranya, tapi dengan imbalan gantian fotoin kita dong. Alhamdulillah, keluarga ini ramah banget. Malah si suami yang sibuk ngatur posisi kami supaya angle-nya sempurna. Dan syukurnya hasil foto yang diambil itu bagus. Nggak ada lagi kampret-kampret di belakang kami yang merusak keindahan foto.

Usai foto-foto, sekarang kami hanya berdiri mematung, diam, memandang ombak putih yang memukul-mukul karang di samping kami sambil sibuk dengan pikiran masing-masing. Pendeknya bengong. Indah nian negeri ini, tjakep banget Tanah Lot ini. Hamish Daud Wyllie kalah tjakep deh. I’m sorry darling. Jam 5 pm kami memutuskan move on dari pesona Tanah Lot. Sedikit kecewa dengan mendungnya langit hari itu. 

Makin sore, bukannya makin sepi malah makin banyak saja turis yang datang. Balik ke tempat kedatangan tadi, agak sepi pengunjung. Bagus nih dimanfaatkan untuk foto-foto. Pas clingak-clinguk nyari ‘mangsa’ untuk minta difotoin, eh keluarga ramah yang fotoin kami tadi juga sedang foto-foto. Rejeki anak soleh nih! Tanpa malu-malu kami sok akrab negur mereka dan ujung-ujungnya minta difotoin. Pfft... tapi mereka dengan senang hati mau fotoin kami, tentunya setelah itu kami gantian fotoin mereka.

Selesai foto-foto, kami menepi sejenak untuk nonton para surfer yang sedang pamer bakat. Wuih, keren gila surfers ini menaklukkan ombak pantai yang gede. Saking kerennya, sepanjang tebing disana penuh dengan penonton yang mau melihat aksi mereka. Padahal surfers itu hanya berempat, yang nonton se-kelurahan. Pokoknya heboh banget nonton bareng surfing sore itu. Kalo si mas surfer sedang di puncak ombak, ratusan orang yang nonton di pinggir tebing kompak bertepuk tangan. Iya, kayak nonton sirkus gitu. 

mas-mas surfer beraksi
Tapi keterpesonaan kami agak terganggu dengan kejadian unik. Ceritanya kami sedang fokus nonton mas-mas surfer beraksi, tiba-tiba ibu Cina di samping Mute mengarahkan kamera pocket-nya ke arah kami. Agak geer juga, saya pura-pura tetap fokus nonton saja. Saya pikir ibu itu nggak mungkin fotoin kami, mungkin dia foto ramenya penonton yang sedang serius nonton surfing. Abis foto, ibu itu ngobrol pake bahasa Cina dengan teman-temannya. Abis itu sudah, nggak ada terjadi apa-apa lagi.

Nah, beberapa menit kemudian, bapak Cina di sampingku pasang gaya siap difoto oleh temannya, tapi bapak itu memegang bahuku mengisyaratkan kalo mau foto bareng. What! Teman-temannya langsung heboh mau gabung foto bareng kami bertiga. Kami yang kagok dimintai foto bareng hanya cengengesan. Ibu-ibu yang tadi di samping Mute dan bapak-bapak Cina itu beberapa kali ganti-gantian foto bareng kami. Mungkin mereka belum pernah lihat 3 gadis Indonesia berhijab dan kulit eksotis. 

Oiya, baru ingat kalo kami masih memakai bunga Bali di selipan hijab dan beras di jidat. Aih, makin eksotis lah kami. Nggak tahu beberapa kali rombongan Cina itu foto bareng kami. Yang lucu, si bapak Cina yang disamping saya itu ngomel-ngomel pake bahasanya karena hasil foto dengan kami nggak memuaskan. Sambil tetap ngomel, dia nunjukin hasil fotonya ke saya. Ternyata kepala bapak itu terpotong! Bahahahahaha. Dia nuntut temannya untuk ambil foto ulang. Yaudah, foto lagi.  

Saya coba menyapa pake English bapak Cina yang heboh di sampingku itu, tapi dia kayaknya nggak ngerti. Yaudah, mengandalkan pengetahuan dari film-film, saya bilang xie-xie. Amboi... mereka makin girang waktu kami ngomong makasih dalam bahasa mereka. Sinting! Sayangnya karena terlalu geer dengan kejaian itu, kami nggak terpikir untuk foto bareng pake kamera kami. So, nggak ada bukti. Kalo istilah kaskuser itu no pict, hoax.

Setelah kejadian luar biasa tadi, kami jalan-jalan lagi. Kali ini kami mau cari posisi terbaik untuk lihat sunset yang masih malu-malu di balik awan tebal. Lagi asyik jalan, ada ibu-ibu yang nampaknya terpesona berat dengan beras di jidat dan bunga Bali di telinga kami. Si ibu nanya dimana caranya dapat bunga dan beras itu. Sayang beribu sayang, bapak-bapak dan bli-bli di air suci sudah tidak melayani lagi karena air menuju ke tempat air suci sudah sangat pasang. 

sunset Tanah Lot yang malu-malu
 Lanjut jalan lagi. Kali ini kami jalan ke arah restoran yang eksotis abis. Restoran ini outdoor dengan kursi dan meja yang ditata di pinggir tebing. Jadi view-nya itu laut dan seandainya hari ini nggak mendung, mantap gila makan-makan romantis disitu sambil terdiam menatap matahari terbenam. Mamammia! 
Matahari udah hampir tenggelam. Sinar orensnya hanya dikit, tertutupi awan tebal. Kita duduk-duduk dulu pinggir tebing untuk menatap matahari. Apapun sunsetnya, yang penting bersyukur. Hehehehe. Oiya, di belakang tempat kami duduk-duduk itu lokasi penyelenggaraan tari kecak yang dimulai maghrib ini. Musik tradisional mulai bergema, tanda para penari sebentar lagi akan beraksi. Seperti kata Pak Erik, tari kecak di Tanah Lot ini terbaik kedua setelah tari kecak di Uluwatu. Tapi sayang beribu sayang, tiket masuknya itu 50 ribu rupiah per-orang. Okay, ga jadi nonton. Kami kere. 

penjual lukisan dan sovenir di Tanah Lot
Puas menatap matahari, menjelang jam 6 pm kami balik ke parkiran mencari Pak Erik dan mobil. Ternyata Pak Erik itu sedang ngobrol di dekat lokasi tari kecak dekat kami. Mute dan Lia malah nggak ngeh kalo itu Pak Erik. Mereka nyelonong aja jalan ke arah parkiran. Nyahahahahaha. 

Tujuan berikutnya itu belanja di Khrisna. Yeaay! Mobil meluncur mulus kembali ke Kuta. Hari sudah mulai malam. Obrolan berkualitas kembali terjalin antara kami dengan Pak Erik. Beneran, hari itu banyak banget pengetahuan baru yang kami dapat dari ngobrol ama Pak Erik. Sepanjang jalan juga Pak Erik terangin ini tempat apa, itu tempat apa. Oiya, entah berapa kali Pak Erik memuji kami pintar karena baru datang beberapa hari di Bali sudah jago ‘menjajah’ daerah kuta. Dapat jalan pintas pulak! Malah kata Pak Erik, jangan-jangan kalo sudah sebulan sudah bisa dapat rumahnya di Denpasar. Ahahahaha.

Sepanjang jalan, obrolan kami nggak berhenti mengalir. Temanya pun makin absurd. All about babi guling pun dibahas. Iya, Pak Erik ketawa waktu kami heboh liat kepala babi utuh dipajang di salah satu warung makan. Pak Erik pun ceritain tentang babi guling itu kayak apa. Katanya isi perut babi itu dikeluarkan trus diisi berbagai sayuran. Abis itu, dipanggang sambil diguling-guling supaya dagingnya matang merata.

Trus, kami juga dapat pengetahuan baru tentang macam-macam plat kendaraan se Indonesia, karena sepanjang jalan banyak bus-bus pariwisata dari luar kota yang mulai berdatangan ke Bali. Pak Erik juga cerita tentang orang gila-orang gila di Bali dan beberapa kabar burung tentang tumbal manusia untuk pembangunan jalan tol atas laut-nya Bali yang sangat keren itu. Trus... apalagi ya? Oiya, Pak Erik juga curhat tentang betapa tidak adilnya undang-undang kecelakaan lalu lintas. Jika ada kasus mobil vs motor, siapapun yang bersalah, pasti mobil yang kena hukum. Pak Erik pernah mengalaminya sewaktu bawa tamu jalan-jalan. Ada anak ABG bawa motor ugal-ugalan, eh Pak Erik yang kena hukum. Pukpuk Pak Erik. 

Pak Erik kasi info tempat wisata eksotis di Indonesia kalo kami mau traveling berikutnya. Beliau rekomendasikan Masjid Kuning Telur di Kepulauan Riau. Konon Masjid itu udah tua banget tapi masih sangat cantik dan kuat. Untuk menuju kesana pun sangat mudah. Oke deh Pak Erik, someday kami akan traveling keliling Sumatera, kami nggak akan lupa untuk mengunjungi Masjid Kuning Telur. 

Ehm, mau tahu harga tanah di Kuta? Mau tau? Setelah pesan-pesan berikut ini. Apasih! Kata Pak Erik, nggak ada satu orang tajir pun yang sanggup beli tanah di Kuta. Kenapa? Karena tanah di Kuta nggak ada yang dijual! Bego banget kalo ada yang sampe mau jual tanahnya di Kuta, kawasan yang strategis untuk membangun apapun. Ceritanya milyarder dari Brunei pun ditolak waktu mau membeli sebidang tanah disana. Edun! Dan masiiiiiiiiih banyak lagi cerita-cerita kami bareng Pak Erik.

Tiba di Khrisna udah jam 6.30 pm. Pak Erik akan nunggu kami di parkiran selama kami berbelanja. Sebelum belanja, ke ATM dulu transfer uang rental mobil ke rekening Bu Sukma, trus titip ransel. Mute dan Lia nggak nitip karena tas mereka ada di mobil. Sebagai tanda penitipan, saya dikasi kartu yang dikalungin. Abis itu menjelajahlah kami disetiap sudut Khrisna yang gede banget itu.

Mulai deh Mute dan Lia bergerilya mencari barang-barang incaran masing-masing maupun untuk oleh-oleh dan barang titipan. Hadoh, ribet banget lah pokoknya. Saya dong, santai aja malam itu. Kalo backpacker itu nggak wajib bawa oleh-oleh. Selain ribet, penuh-penuhin backpack aja *alesan, padahal kere. 

shopping di Khrisna | patung Khirsna
Khrisna ini selain luas, banyak banget barang-barangnya. Mulai dari pakaian yang punya 1 ruangan khusus, makanan khas, pajangan, asesoris, lukisan, skin care khas Bali, dan masih banyak lagi. Lia minta dibantu milih celana pantai untuk adiknya, Mute minta dibantu milih lukisan untuk Ummi adiknya. Memang selera saya bagus-bagus. Ahay! Buanyak banget wisatawan yang datang ke Khrisna malam itu. Daaaan... mayoritas orang Indonesia! Wow, emejing. Orang Indonesia emang banyak duit. Malah si Mute ketemu ibu-ibu rombongan dari Pinrang! Saking banyaknya orang, kasir yang banyak itu antriannya fantastic. 

Setelah sejam lebih keliling-keliling, milih-milih, nyoba-nyoba, cium-cium (skincare), akhirnya kami ngantri di kasir dengan tentengan masing-masing. Saya HANYA beli lulur Bali varian coklat dan asbak ukiran kayu. Asbak kayu ukiran borobudur di rumah pecah, ya gantinya asbak ukiran barong khas Bali dong. Biar sama eksotisnya. Halah. 

Selesai belanja, kami kembali ke mobil dimana Pak Erik nunggu. Aduh, nggak enak banget rasanya buat Pak Erik nunggu kami belanja. Padahal tadi saya udah sesumbar ngomong sama Pak Erik kalo kami nggak sampe sejam belanja. Faktanya, sudah sejam lebih mata kami dimanjakan dengan barang-barang di Khrisna yang banyak dan tentunya murah.

Pas selesai ngantri lama banget di kasir, udah jam 8.55 pm. 5 menit lagi sampe waktu rental mobil habis. Tapi agenda kami hari itu belum tuntas. Kami masih mau diantar lagi makan ayam betutu khas Bali. Piye iki? Semoga Pak Erik mau memberikan injury time dikit. Meheheheh. 

Keluar dari Khrisna, saya foto-fotoin dulu patung Dewa Khrisna yang berdiri menjulang sambil meniup suling tepat di depan toko. Mute dan Lia lanjut jalan nyari Pak Erik dan mobilnya. Pas saya mau jalan ke parkiran, Mute dan Lia sudah nggak ada. Waduh, dimana nih anak-anak, jangan-jangan mereka sudah menemukan Pak Erik. Yaudah, saya lanjut cari saja. Beberapa meter jalan, saya ketemu pak Erik lagi ngobrol dengan orang-orang di parkiran. Lho, Mute dan Lia kemana? Kok mereka belum di mobil?

Pas lihat saya, Pak Erik langsung ngomong “Wah, dapat kalung darimana?” He? Kalung? Saya langsung sadar kalo ransel saya yang di titip belum saya ambil. Tanpa babibu, saya lari dengan kecepatan maling ke tempat penitipan tas. Haduh Asti, ceroboh sekali dirimu nak! Setelah ambil ransel, saya balik ke mobil. Ternyata di mobil Lia dan Mute sudah duduk manis dan kompak ngakak ketawai ulahku. Laporin Kak Seto nih!

Selesai urusan belanja, cabut nyari makan di Jl. Raya Tuban itu pusatnya wisata kuliner Kuta kata Pak Erik. Rame banget jalan ini sama tempat makan. Mulai dari makanan mainstream, sampe yang anti mainstream. Meheheheh. Maksudnya dari makanan yang dimana-mana ada sampe yang khas Bali banget. 

Incaran kami malam itu ayam betutu khas Bali dan tentunya yang halal. Pak Erik tau tempat ayam betutu asli Gilimanuk yang maknyus. Kesanalah kami menuju untuk makan malam. Pas tiba di depan rumah makan yang Pak Erik maksud, ternyata parkirannya penuh banget. Yaudah, malam itu kami nggak jadi makan ayam betutu. Kami makan nasi pedas Ibu Andika Kangen Band saja yang juga sangat terkenal itu.


Nasi pedas Ibu Andika terletak di lurusan Jl. Raya Kuta terusannya Jl. Raya Tuban. Tiba di nasi pedas Ibu Andika udah jam 9 lewat 5 pm. Waduh, jatah rental mobil kami udah lewat 5 menit. Tapi Pak Erik asyik-asyik aja tuh. Malah beliau tetap mau nungguin kami pesan makanan dan nganterin pulang. Karena nggak enak sama Pak Erik, kami bungkus saja makanannya, trus makan di rumah. 

nasi pedas Bu Andika
Nasi pedas Ibu Andika ini sederhana saja, seperti warung makan pada umumnya. Menunya pun kayak warung makan biasa. Tapiiii, sambalnya itu pedasnya kampret. Kata orang-orang sih. Iya, sambalnya aja yang pedas. Nasi, sayur, lauk pauk nggak pedas. Jadi kalo nggak mau pedas, ya jangan makan sambalnya.

nasi pedas Mute | nasi pedasku
Saya sebagai pedas addict, merasa tertantang makan hidangan nasi pedas Ibu Andika. Malam itu saya pesan nasi, sayur, dan beberapa lauk beserta sambal andalan yang jadi x factor rumah makan ini terkenal. Pesan, bayar 17 ribu rupiah, trus kembali ke mobil. Tanpa buang masa, Pak Erik menuju monumen bom Bali sebagai pemberhentian terakhir. Hiks, inilah saat-saat tertakhir kami (kayak lagu ST12) dengan Pak Erik yang baik hati. Nggak terasa udah 12 jam lebih kami habiskan bersama beliau.  Nggak tahu gimana garingnya hari kami kalo misalnya nggak dapat partner jalan seperti beliau. Hari itu makin bermakna karena beliau, banyak cerita, pelajaran yang kami dapat. Pokoknya, penghargaan man of the match, err maksutnya man of the day milik Pak Erik deh. 

Tiba di monumen bom Bali, kami berpisah. Ucapan terima kasih dan doa dalam hati masing-masing untuk kebaikan Pak Erik dan keluarganya kami berikan malam itu sebagai tanda perpisahan *melankolis. Bye Pak Erik, semoga bisa bertemu lagi di lain hari. Aaamiiin. Tapi sayangnya, sampai pertemuan terakhir kami malam itu, kami lupa ngambil foto Pak Erik. Jadi para pembaca yang budiman nggak bisa liat sosok baik hati itu.

Setelah berpisah dengan Pak Erik, kami harus segera move on untuk pulang ke losmen. Sempat juga terbengong-bengong dulu sama ramenya manusia yang mengunjungi monumen bom Bali dan sekitar jl. Legian. Iya, hingga hari ke lima ini saya masih takjub juga dengan suasana jl. Legian di malam hari. Asli, bukan kayak di Indonesia saking banyaknya bule berseliweran. Jalan kaki lagi di Poppies 2 yang kami cintai dan nggak kalah ramenya. 

Tiba di losmen, langsung makan nasi pedas Ibu Andika yang kami bungkus. Rasa makanannya enak, dan sambalnya yang luarrrr biassaaa. Pedas banget! Untungnya nasi dan lauk pauknya nggak panas, jadi pedasnya nggak nyiksa. Tapi yang bikin ngakak malam itu, kami makan diiringi desahan kepedesan kami. Udah tau pedas, masih dimakan juga sambalnya. Lia sampe nggak shangghuup, telinga dan sekujur badannya sudah gatal-gatal aneh saking pedasnya. Mute juga nggak shangguup, air matanya sampe mengalir kayak orang nangis. Liat efek fisiologis yang ditimbulkan oleh pedas maksimal pada Mute dan Lia, saya tambah ngakak. 

Jadilah malam itu heboh banget gara-gara nasi pedas Ibu Andika. Keringatku mengucur deras, tapi saya harus tetap semangat untuk menghabiskan semua makananku. Pokoknya harus habis untuk membuktikan kalo saya itu pedas addict garis keras.

Alhamdulillah makananku habis tak bersisa, sambalnya juga habis! Tentunya dengan penuh perjuangan sampe beringus. Lia gatal-gatal, Mute nangis, saya mandi keringat dan ingusan. Spektakuler lah nasi pedas Ibu Andika ini. 

hasil belanja hari ini | lukisan pilihanku buat oleh-oleh Ummi, adeknya Mute
Abis makan, seperti biasa urus urusan duniawi dulu. Bayar hutang-hutang, bersih-bersih, ngatur barang hasil belanjaan di Krishna tadi, shalat, urut betis, oles minyak aromaterapi di perut, dan saya siap mengarungi alam mimpi. Oiya, sebagai penutup hari, saya mau mengutip kalimat paling cetar membahana dari Pak Erik hari ini. “Traveling itu kalo jalan-jalan di suatu daerah yang nggak ada satupun yang kita kenal apalagi teman dan sodara, kalo jalan-jalan di daerah yang ada sodara, teman dan kenalan itu bukan traveling tapi silaturahmi”. Sheddaap. Good night Bali.

23 Desember 2013

Assalamualaikum Bali... (day 4: Bali Waterbom & Kuta Beach)

lupa sumbernya darimana, maap...

Rabu, 14 November 2013

Shalat subuh selalu jadi pengawal hari kami, setelah itu ngantri mandi. Disiplin kan? Kayak gadis pesantren. Ahay. Mau kemana kita hari ini? Ke Bali waterbom dong. Woooow, tempat yang paling saya nanti-nantikan sejak dari Kendari. Waterpark yang ngakunya bintang 5 ini akan menjadi pengalaman perdana dalam hidupku main ke waterpark yang selama ini hanya saya liat di televisi. Ini keinginan terpendam dari kecil sob! Ingin banget main segala macam wahana yang ada di waterpark seperti yang di tivi-tivi. Adasih waterpark di Makassar, Bugis Waterpark namanya, tapi waktu itu nggak sempat kesana karena udah mau pulang ke Kendari dan mahal. Bahahahahaha. Di Kendari pun ada tempat semacam waterpark, tapi yagitu deh, abal-abal.


Tiket Bali waterbom mahal banget, yaiyalah, bintang 5 gituloh. Bahkan menjadi nomor 1 waterbom dan taman bermain yang patut di kunjungi se-Asia menurut Trip Advisor mengalahkan Universal Studios Singapore, Disneyland Tokyo dan Hongkong, dan 1263 objek wisata lain. Mantap nggak tuh? Tapi kami dapat tiket hanya dengan harga 175 ribu rupiah per orang, itu termurah se Bali dong. Pesannya di Bali Reservasi. Trusted, fast response, ga pake ribet, dan tentunya murah.

Lanjut, shalat subuh nggak boleh dilewatkan dong! Pagi ini kami agak santai karena rencananya berangkat ke Bali Waterbom jam 8.30 am. Sarapannya pun nggak malu-maluin lagi karena datang kepagian kayak kemarin. Kali ini ruang makan full! 4 meja semua ada penunggunya. Alhamdulillah ada 1 meja yang hanya dihuni oleh 2 gadis Bali kalo dengar logatnya. Gabunglah kami disitu. Depan meja kami ada 2 kakek-kakek bule yang sedang ngobrol. Kalo dengar obrolan mereka seperti sedang dengar siaran radio BBC. Nyahahahahah. Suara opa-opa itu berwibawa mirip suara narator soal listening TOEFL. Hari ini saya sarapan roti kering, energen, dan teh tawar. Lia juga makan roti kering dan energen. Dan Mute masih setia dengan 2 bungkus mi gelasnya. Berhubung pancake kemarin rasanya kurang pas di hati, hari ini kami pesan roti dan telur. Sederhana aja, 2 lembar roti tawar yang tengahnya diisi telur ceplok fresh plus salad buah. Masih menjalankan strategi kayak kemarin, makanan dari losmen kami jadikan bekal makan siang. Oiya, di Bali Waterbom sebenarnya nggak boleh bawa makanan dari luar karena di dalam udah disediain semacam food court yang lengkap banget. Tapi kami nekat aja, kalo mau diambil, ambil aja dah.

Berangkatlah kami dengan ransel yang penuh dengan barang-barang plus bekal seadanya. Hari ini GPS kembali in action, nunjukin arah ke Bali Waterbom di jl. Kartika Plaza yang sebenarnya dekat banget, kalo dilihat dari peta. Jalan kaki lagi kitaaa, sambil mandi sinar matahari pagi Kuta menurut internet hari ini panasnya 32° C. Sepanjang jalan kami diskusi tentang gimana caranya nyari transportasi ke Bedugul besok. Iya, kami rencana ke Bedugul besok dan di daftar shuttle bus nggak ada yang menuju ke Bedugul. Bedugul emang jauh sih, kalo di peta itu udah hampir di Bali utara. Informasi dari internet, harus rental mobil. Hadeeuuh, mahal tuh! Yaudahlah, nikmati dulu Bali Waterbom hari ini, ke Bedugul entar-entar aja dipikirnya. Don’t worry be happy. Ini Bali sob! Where everyone is happy.

Setelah jalan sekitar 20 menit dari losmen, tibalah kami di Bali Waterbom. Kalo dilihat dari depan sih biasa aja, ada badut maskot Bali Waterbom di depannya. Pas masuk, sudah banyak terlihat bule ngantri mau masuk. Tapi kami jadi tamu istimewa hari itu, berhubung kami punya voucher dari Bali Reservasi, kami nggak perlu ngantri lagi. Ada disediakan loket khusus yang langsung melayani kami secara spesial. Keren gak tuh? Di loket, kami harus ngisi deposit, serahin sejumlah uang dan kami akan dikasi gelang. Kalo mau belanja atau transaksi apapun di dalam, tinggal scan aja bar code yang ada di gelang. Sistemnya kayak pulsa gitu. Kalo nggak habis, dikembalikan lagi kok uangnya. 

Selain itu, saya juga nyerahin uang deposit untuk prepaid card, nominalnya berapa lupa. Tapi kalo pulang, uangnya dikembalikan utuh. Setelah menyelesaikan segala birokrasi di loket masuk, resmilah kami jadi pengunjung Bali Waterbom. Whoooaaaa, nggak sabar untuk nyebur dan teriak-teriak kegirangan di semua wahana. Sebelum masuk, tas kami diperiksa dulu isinya ama satpam wanita yang ramah. Waduh, kotak makan kami semua ditahan. Tapi tenang, kami dikasi kartu, jadi misal kalo mau makan, tinggal ngasih kartu itu ke mbaknya trus dikasi deh makanan kita lagi. Jadi ditahan trus dikembalikan lagi. Bali Waterbom baik ya?

loker-loker
Kami langsung menuju tempat ganti baju dan loker untuk nyimpan tas. Oiya, loker harus disewa. Kami sewa sebuah family locker yang muat untuk ransel-ransel gede kami. Harga sewanya 35 ribu dan deposit 30 ribu, jadi totalnya 65 ribu rupiah. Bayarnya ya pake gelang berisi uang deposit kami. Abis scan gelang, kami dikasi gelang lagi sebagai kunci loker. Tinggal scan aja gelangnya di tempat scan yang ada di pintu loker sampe lampu merah berubah jadi lampu ijo, kebuka deh lokernya. Modern and simple. Lokernya gede sih tapi bentuknya memanjang. Tapi tas kami cukup masuk ke dalam dengan cara ditumpuk vertikal. Oiya, dalam loker ada gantungan juga. Taruh barang dan sandal, trus capcus ganti rok dengan celana training. Kalo Lia dan Mute sih udah siap nyebur karena mereka pake baju untuk main airnya dari rumah.


mute di pleasure pool
Yeaaaaaaaaay, finally. Impianku sejak kecil kini terwujud. Nggak sabar ingin coba semua wahana yang memacu adrenalin. Sebelum pecicilan, kami baca peta yang tersebar di sudut-sudut area Bali Waterbom. Rupanya lokasinya masih saling berdekatan. Kami pemanasan dulu di kolam biasa namaya pleasure pool, abis itu kami coba wahana superbowl yang punya kecepatan 50 km/jam. Keren nih, kita meluncur pake ban khusus, bisa berdua, bisa sendiri. 


superbowl yang orens dan boomerang yang biru
Yang pertama naik wahana itu saya dan Lia, Mute nunggu di bawah. Naik tangganya capek saking tingginya. Tapi pas tiba diatas, semua capek ilang karena rasa takut-tapi-penasaran. Sensasi pas ngantri nunggu meluncur ke bawah itu, sumpah deg-degan. Apalagi diselingi teriakan-teriakan turis lain yang sedang meluncur turun. Antrian cuma sedikit, didominasi sama turis bule. Sayangnya anak yang dibawah 120 cm nggak boleh ikutan wahana ini. Sebelum turun, kami di ajar dulu cara-caranya sama Bli petugas. Yang berat badannya lebih ringan, harus di depan. Bokong nggak boleh nyentuh lantai. Dan santai aja.. kata Bli. Bli petugasnya ramah banget, jago English lagi.


superbowl  | copy from www.waterbom-bali.com
Akhirnya tiba juga giliran kami untuk turun. Adrenalin udah di ubun-ubun nih. Pas turun, Lia udah teriak kenceng banget. Saya nggak mau kalah, teriak yang super kenceng. Waaaaaaaaaaaaaa... awalnya kami muter-muter di tabung tertutup trus turunan curam, trus nyangkut di mangkuk raksasa sambil muter pelan, abis itu muter kencang lagi, finish deh di kolam renang. Seruuuu! Pas tiba di air, kami dihadiahi tepuk tangan dari semua Bli petugas yang berjaga disana. Mau lagi, mau lagi. Pas naik, kami dikasi gelang lagi. Ha? Gelang apaan nih? Ternyata gelang untuk ngambil foto candid kami. Jadi, kalo mau nyetak foto, tinggal di scan di counter foto, keluarlah foto-foto kami selama main di wahana superbowl dan boomerang. Canggih bukan buatan!


tribun mini untuk nonton orang-orang terjun dari superbowl dan boomerang
Next, coba wahana di samping superbowl yang lebih menantang adrenalin, boomerang. Kali ini saya masih duet sama Lia. Ganti ban dulu ke ban warna ijo. Boomerang ini lebih serem, karena abis turunan curam banget, ban kita akan terlempar naik sama curamnya kayak waktu turun. Kayak mau terbang ke langit gitu, horor juga kalo ada kesalahan trus mendarat di tanah keras. Hiii.. Naik di tangganya berbeda dengan tangga superbowl, tapi ujungnya berdampingan dengan superbowl. Antri sebentar, trus giliran kami. Sensasinya masih kayak tadi, takut-takut tapi penasaran. Kali ini petugasnya cewek. Kakak petugas itu mirip banget sama Fahrani yang main di Radit dan Jani. Pake kacamata hitam, kulitnya eksotis, manis, pokoknya cocok jadi artis deh. Oke fokus! Kakak petugas kembali ingatin kita peraturan dasarnya kayak di superbowl tadi. Lia teriak lagi, saya juga. Pas turun, muter-muter kencang dulu, abis itu yang paling serem, kami meluncur turun dengan kecepatan 70 km/jam dan pas turun kenceng itu, ada besi tangga naik di depan kami. Horor banget kalo kepala kena tangga itu, mungkin bisa mati seketika. Tapi ternyata tidak permisa, kepala kami aman-aman saja. Bule yang tinggi banget saja aman, apalagi kita yang orang indonesia? Setelah turunan curam setinggi 20 m, disambut lagi sama tanjakan curam yang bikin roh kayak mau tercabut. Lebay? Cobain aja sendiri. Abis tanjakan itu, turun deh ke kolam finish diiringi tepuk tangan lagi.

boomerang | copy from www.waterbom-bali.com
Abis itu, akhirnya Mute mau coba juga naik boomerang duet sama saya. Never say never Asti! Walopun paha udah pegel naik tangganya. 3 kali berturut-turut sob! Mungkin Bli dan kakak petugasnya sudah familiar dengan saya saking nggak ada berhentinya main. Posisi Mute di depan, saya di belakang. Padahal sebenarnya saya ingin duduk di depan. Teriakan Mute nggak kalah kencangnya dengan teriakan Lia, dan saya juga nggak mau kalah teriaknya. Waaaaaaa... kali ini sensasinya udah nggak segreget daripada waktu pertama tadi. Tapi jangan samakan standar takutku pada permainan macam gini dengan standar takut anda. Saya memang agak ‘batu’ kalo ama permainan yang menantang adrenalin. Kalo hanya roller coster dan dragon tower di Trans Studio Makassar sih cemen! Lebih serem goreng ikan daripada naik wahana di Trans Studio Makassar. Ashiik. 


santai di lazy river
Lia dan Mute nggak ada lagi yang mau temani saya naik boomerang. Saya juga males kalo harus turun sendiri. Yaudah, kita cari wahana yang lebih santai aja. Kami pilih lazy river. Konsepnya baring-baring santai di ban sendiri ato berdua sambil mengikuti arus sungai buatan yang lambat dan santai. Lazy river ini makin cozy dengan beberapa air terjun mininya, daun-daun yang jatuh dari pepohonan yang rimbun, pokoknya sangat menenangkan jantung yang heboh setelah naik superbowl dan boomerang tadi. Mute dan Lia duet di 1 ban, saya ambil ban sendiri. Mulailah kami terombang ambing di sungai sambil menikmati rimbunnya area Bali waterbom. Enaaak... banget, rasanya pengen tidur. Panjang juga rute lazy river ini. Peminatnya juga berbagai umur dan lagi-lagi mayoritas turis barat.


lazy river | copy from www.waterbom-bali.com
Finish lazy river, kami nyari permainan lain. Hari makin siang, makin panas, lantai semen pun juga ikut-ikutan panas. Jadi kami jalannya lompat-lompat karena kaki kepanasan. Wahana berikutnya yang jadi incaran kami itu climax, berbentuk tabung transparan tertutup full yang tingginya 16 m dan luncurannya hampir 180 derajat! Jadi badan tuh kayak di lempar turun begitu aja dengan kecepatan 70 km/jam. Seru nih, sayangnya Mute dan Lia nggak minat sama sekali untuk coba. Yaudah, saya saja yang main. Pas ngantri, depanku itu cewek bule. Heh, dia disuruh buka kaosnya sama Bli petugas sebelum naik. Jadi si cewek bule itu hanya berbikini. Ternyata yang berbaju kaos nggak boleh naik. Yang boleh itu baju berbahan karet seperti kain baju renang gitu atau sekalian pake bikini aja. Karena katanya kalo pake kaos, bisa nyangkut di tengah-tengah pipa itu. Kan serem? Sayang beribu sayang. Adrenalinku yang meluap-luap nggak bisa disalurkan. Padahal wahana setinggi 16 m ini yang paling nafsuin untuk ditaklukkan.


climax | copy from www.waterbom-bali.com
Masih satu kompleks dengan climax, ada pipeline. Pipeline ini mirip sama climax, dengan tabung transparan tertutup full, kecepatannya 60 km/jam, dan tingginya 20 m! Lebih tinggi daripada climax. Tapi pipeline ini turunnya nggak curam karena tabungnya berkelok-kelok, kalo climax itu turunnya langsung menghempas tubuh ke bawah. Tapi masih serem juga, apalagi untuk orang yang fobia di tempat tertutup. Dan seperti climax, saya nggak bisa naik wahana ini karena baju kaos saya. Sigh.
pipeline | copy from www.waterbom-bali.com
Cari wahana lain deh. Liat-liat peta lagi dimana ada wahana yang memacu adrenalin. Wah, ada yang menarik tuh. Namanya boogie ride, naiknya pake matras. Naiklah kami di tangga yang super tinggi dan bikin capek. Lucunya, ketika naik tangga dengan ketinggian tertentu, ada papan kecil dengan tulisan ‘you have burned blablabla calories’. Wah, makin semangatlah saya naik tangga. Lumayan, sambil main sambil bakar kalori. 


boogie ride | copy from www.waterbom-bali.com
Tiba diatas, saya bengek! Tapi demi menyalurkan hormon adrenalinku yang hiper, nggak apa-apa lah. Boogie ride ini turunnya tengkurap di matras, nggak ada muter-muternya, hanya meluncur turun yang curam. Saya turun bareng pria bule, Mute turun bareng Lia. Ekspresi mereka pas turun itu bikin ngakak. Antara terbelalak liat turunan yang curam dan histeris. Ah, kurang nih, kurang. Ada lagi disamping kanan boogie ride yang lebih curam turunannya, namanya smashdown. Sayang, kami nggak bisa coba karena pakaian kami lagi. Smash down ini turunnya nggak pake alat, dengan kemiringan 60° dan kecepatan 70 km/jam, langsung badan kita aja yang turun.

smash down | copy from www.waterbom-bali.com
Kami juga ngga bisa naik wahana di samping kiri boogie ride, race track, yang 11-12 ama boogie ride tapi turunnya nggak pake alat dengan kecepatannya 50 km/jam, agak serem juga sih. Hiks, sedih rasanya ditolak main sama Bli petugas *mellow. Berhubung boogie ride kurang memacu adrenalin untuk saya, saya malas main lagi. Naik tangganya capek berat. Tapi kita harus move on ke wahana lain. 


race track | copy from www.waterbom-bali.com
smash down, boogie ride, dan race track
Masih di kawasan boogie ride, ada namanya raft river, yang finishnya langsung nyebur di lazy river. Raft river yang kecepatannya 50 km/jam ini naik ban orens kayak superbowl. Bisa sendiri, bisa berdua. Kami bertiga masing-masing ambil ban, jadi kami turunnya sendiri-sendiri. Raft river ini nggak begitu curam turunnya, tapi berkelok-kelok banget. Pusing! Saking berputar-putarnya, ada di beberapa part rasanya kaki ini mau terbentur sisi pipa, tapi ternyata tidak. Meheheheh.


mau naik raft river
raft river | copy from www.waterbom-bali.com
Huah, capek juga nih daritadi pecicilan. Kami istirahat lagi di pleasure pool. Si Mute dan Lia mengasah skill renangnya, saya leyeh-leyeh berjemur berasa bule. Di samping pleasure pool, ada kolam dengan net dan bola voli. Kebanyakan pasangan-pasangan yang main. Pas turun mau coba ikut main, ternyata airnya tinggi pemirsa! 150 cm. Pantas airnya udah sampe dagu. Nggak jadi ah, skill renangku masih level minion. Naik lagi deh berjemur.


gelang-gelang ajaib | santai di pleasure pool
Saya bosan berjemur, kini giliran Lia dan Mute yang berjemur. Saya main di pleasure pool sambil memperhatikan turis-turis yang makin siang makin rame aja. Saya baru nyadar kalo sejak pagi tadi, pengunjung lokal itu hanya sekitar 10%. Dan yang berhijab ya cuma kami bertiga. Mayoritas turis bule dan sebagian lagi turis berwajah oriental. Mungkin karena hari itu bukan hari libur nasional, jadi pengunjung lokalnya kurang. Anak-anak cute banyak berseliweran di depanku. Pengen rasanya ajak ngobrol, tapi serem sama orangtuanya yang ngawasin dari pinggir kolam. Gemes aja dengar anak-anak ini ngobrol dan jerit-jerit pake bahasa Inggris. Ada juga a cute boy pake topi bundar yang anteng banget dilukis bareng mamanya di booth pelukis yang disediakan Bali Waterbom. Cute banget anak itu! Supaya nggak bosan dan mau diam dilukis, mamanya belikan es krim. Jadi, sambil di lukis, sambil makan es krim. Grrrhhh, pengen diculik tuh anak.

Begitu capeknya ilang, ayo main lagi! Berhubung main yang seri itu di boomerang dan superbowl, ya kami menuju kesana lagi. Kali ini antriannya buset, mengular banget! Anak-anak turis bule juga banyak banget. Rupanya superbowl dan boomerang ini jadi wahana primadona. Saking padatnya antrian di superbowl, sampe di tangganya ditutup dulu untuk sementara sama Bli petugas. Antrian di boomerang nggak terlalu padat, yaudah naik disitu aja. Berhubung Mute belum pernah main di boomerang, saya dengan senang hati menemaninya. Naik tangganya makin berat! Nggak tahu sudah berapa ratus anak tangga saya jalani seharian ini. Tapi karena antriannya padat, jadi naik tangganya bisa sambil istirahat sejenak sambil nunggu antrian. Siap meluncur? Yihaaaaaa... emang paling superb deh ini wahana boomerang, sensasi turun dan terlemparnya itu nagih! Sendainya setiap wahana tinggi itu ada liftnya, mungkin saya main 1 jam untuk tiap 1 wahana. Mehehehe...

funtastic yang cemen
Abis main berkali-kali gantian duet sama Mute dan Lia, kami nyari wahana santai lagi. Begitulah seterusnya. Kali ini kami coba wahana untuk anak-anak namanya funtastic. Yaelah, permainannya cemen semua, namanya juga untuk anak-anak. Kolam cetek, air mancur, seluncuran yang pendek banget, ember gede yang kalo penuh numpahin air banyak banget, gitu-gitu deh. Lia dan Mute duduk-duduk depan restoran sambil lihat-lihat foto. Saya bobo-bobo berjemur sambil nungguin ember raksasa itu penuh. Kalo udah penuh, langsung lari saingan sama anak-anak kecil untuk dapat sensasi disiram air berliter-liter. Seru! Gitu terus, berjemur, lari ke bawah ember, tersiram, berjemur lagi, lari lagi, dan seterusnya.


funtastic | copy from www.waterbom-bali.com
Setelah perut lapar, badan capek, paha pegel naik tangga, dan telapak kami perih kepanasan, dan wajah udah pedis terbakar matahari, kami baru mutusin untuk pulang. Sebelum ganti baju, kami mau lihat-lihat foto kami yang diambil secara candid dulu. Ternyata fotonya keren-keren. Yaiyalah, dimabil pake kamera dan fotografer profesional gitu loh. Ekspresi kami lucu-lucu semua! Apalagi waktu turun ekstrem di boomerang. Pas nanya sama mbak petugas, wow! kami harus menebus foto itu dengan 110 ribu rupiah. Itu yang paling murah. Masih banyak lagi paket-paket menggiurkan yang bisa mentransformasi foto ke bentuk mug, piring, gantungan kunci, dan masih banyak. 

Hmm, kami diskusi dulu deh, karena 110 ribu itu sangat mahal bagi kami. Saranku, kalo mau nyetak foto mending minta foto ulang bertiga saja sama Bli fotografer, karena rata-rata foto kami itu hanya berdua. Supaya nyetaknya satu saja, bayar 110 ribu nya patungan, nanti si scan trus cetak masing-masing deh. Smart huh? Tapi, setelah berdiskusi lama dan mengingat masih 3 hari lagi kami di Bali dan takut kehabisan uang, nggak jadi deh cetak fotonya.

Karena Waterbom ini bintang 5, kamar mandi dan tempat ganti bajunya pun mewah. Ruangan ganti bajunya luas, bilik mandinya banyak banget, showernya air hangat dan dingin, pokoknya nyaman. Saya yang tadinya hanya berniat hanya ganti baju, mandinya entar aja di rumah, ga jadi. Jadi nafsu untuk mandi karena kangen punggung ‘dipijat’ pake air hangat. Tapi agak serem juga bilik mandinya. Salah satu dindingnya nggak ada! Jadi, dinding yang berhadapan dengan pintu itu nggak ada, gantinya kayak koridor yang isinya batu-batu putih cantik. Tapiiii, koridor itu tetap ada dindingnya. Jadi kita bisa isengi orang yang mandi di bilik mandi samping kita. 


koridor mini yang menghubungkan antar bilik mandi yang dinding belakangnya nggak ada
Bilik mandiku itu nomor 1, paling ujung, paling rentan terekspose ke dunia luar. Aaaarggghhh! Mau pindah, bilik mandi yang ada air hangatnya penuh semua. Yaudah deh, nasip. Sayangnya nggak enak lama-lama nikmati shower air hangatnya, takutnya Lia dan Mute kelamaan nunggu. Mute hanya ganti baju, Lia malah nggak ganti baju. Dia pulang dengan kaos dan celana trainingnya yang udah hampir kering.

Abis mandi dan beres-beres, ayo cepat pulang! Belum shalat zuhur, dan sudah hampir jam 2. Sebenarnya di Bali Waterbom ada mushallanya. Tapi malas gila ganti kering trus ganti baju basah lagi. Kami puas-puasin main trus ganti baju, lalu sekalian shalat di losmen aja karena Lia belum ganti bajunya yang lembab. Sebelum keluar, selesaikan lagi semua birokrasi kayak waktu datang. Kembalikan gelang loker dan gelang foto, trus ke loket refund untuk ngambil uang deposit kami, trus tukar kartu dengan kotak makan kami yang dititip tadi. Maunya sih liat-liat souvenir Bali Waterbom dulu. Tapi takut kebablasan waktu shalat.


sepanjang jl. Kartika Plaza
Perjalanan pulang ini nggak butuh GPS lagi, jalannya udah hapal kok! Oiya, waktu pergi tadi, kami lihat restoran Bubba Gump yang terkenal itu. Ituloh yang di film Forrest Gump yang legendaris. Nah, depan restoran itu kan ada spot foto dengan setting kayak waktu si Forrest duduk di bangku taman trus ngomong quote yang paling nge-hits dari film itu “My Mama always said, life was like a box of chocolates; you never know what you’re gonna get”. Singgah foto-foto dulu dong, mumpung gratis. Duduk di bangku,dengan sepatu gede, dan sekotak cokelak si samping kiri. Berasa jadi anak perempuan Tom Hanks deh. Bubba Gump ini restoran internasional lho, salah satu cabangnya ada di Bali. Satpamnya sih hanya bisa Liatin kami ganti-gantian foto di depan restoran mereka tanpa beli apapun. Ahahahahah...

Forrest Gump
Lia Gump, Mute Gump, dan Asti Gump
Sepanjang jalan pulang, kami diskusi lagi tentang rencana besok. Kami akhirnya putuskan untuk rental mobil untuk ke Bedugul. Sepanjang jalan pulang banyak banget counter paket tur yang juga menyewakan mobil dan motor. Yaudah, tiap liat counter paket tur, kami singgah untuk nanya harga dan minta kartu nama supaya gampang dihubungi kalo misalnya harganya cocok. Kami ditawari rata-rata harga 550 ribu plus driver dan BBM. Wah, mahal. Alhamdulillah, ada satu counter yang mau ngasih harga 450 ribu plus driver dan BBM. Yaudah deh, jalan lagi. Siapa tahu ada yang lebih murah. Tapi hingga counter terakhir yang kami kunjungi harga 450 ribu itu yang paling murah. Tiba-tiba saya ingat di Bali Reservasi tempat kami pesan online tiket Bali Waterbom dan Bali Zoo Park juga sediakan mobil rental. Kalo Bali Reservasi terkenal dengan voucher tiket murahnya, pasti mobil rentalnya juga murah. Saya langsung sms Bu Sukma, pemilik Bali Reservasi. Alhamdulillah kami dikasih harga 400 ribu! Dasar nggak mau rugi, kami tawar lagi. Kata Bu Sukma, harga itu udah paling pas. Tapi emang Bu Sukma itu baik hati banget, dia naikin jamnya dari 400 ribu/10 jam jadi 400 ribu/12 jam. Abis diskusi sejenak, kami deal pake mobil dari Bali Reservasi. Emang deh Bali Reservasi TOP BGT! Jadi deh kita ke Bedugul besoooook!

Tiba di losmen, shalat dulu. Zuhur langsung lanjut ashar, abis itu nyuci. Berhubung saya orang paling terakhir mencuci, jemuran kayu jatah kamar kami udah penuh. Sampe kursi-kursi dan meja juga penuh jermuran Mute dan Lia. Akhirnya saya minjem jemuran kamar depan yang nggak ada penghuninya. Nggak enak kalo mau pinjam jemuran kamar sebelah, karena ada penghuninya. Abis itu, bobo sore. Istirahat, capek juga main seharian. Berhubung sore ini nggak ada jadwal mau jalan, ke pantai Kuta lihat sunsetnya yang tersohor itu ah! Sampai hari ke empat ini, kami belum juga ke pantai Kuta. Padahal ikon Bali ini ada di belakang lorong kami! Ckckckckc.


the legendary kuta beach
Jam 5.30 pm saya dan Lia berangkat ke pantai Kuta. Mute nggak mau ikut, capek katanya, yaudah. Makin sore makin banyak orang yang berjalan santai menuju pantai Kuta. Tapi hari itu agak mendung, tapi nggak semendung langit sore waktu di pantai Legian dulu. Wuih, pantai Kuta penuh banget dengan manusia yang duduk-duduk menanti matahari tenggelam. Dan lagi-lagi mayoritas bule. Kami datang di waktu yang tepat. Langit udah orens cantik, awan bikin langit makin eksotis, ombak juga bikin suasana sore itu sempurna. Pengunjung di sekitar kami asyik dengan urusan masing-masing, ada yang ngobrol, ngebir bareng teman-teman, bengong mengagumi sempurnanya sunset di pantai Kuta, dan ada juga yang kissing. Yaelah...

Ternyata matahari tenggelam itu singkat banget. Hanya sekitar 1 menit kayaknya. Pas mataharinya udah ilang sempurna, pulanglah kami karena merasa terpanggil dengan suara adzan maghrib. Eits, nggak ada alunan adzan di pantai Kuta, adzan itu bergema di hati kami masing-masing. Tsaaaah. Pulang ke losmen, shalat, turs cabut nyari makan di jl. Mataram. Ya, setelah kesasar di jl. Majapahit tempo hari, hari ini kami bertekad membuktikan kalo di jl. Mataram itu gudangnya warung makan halal dan murah. 

Ternyata jl. Mataram itu dekat banget dari Poppies 2 kalo lewat jalan pintas yang kami lalui tempo hari. Baru beberapa menit jalan, udah banyak bermunculan warung-warung dengan berbagai menu. Berhubung Mute dan Lia sudah pengen banget makan bakso sejak beberapa hari lalu, maka malam ini kami makan bakso. Sempat ada kesalahpahaman, Mute dan Lia yang pesan mi bakso sapi ternyata yang muncul itu semacam mi pangsit dengan beberapa biji pentolan. Sedangkan saya yang pesan bakso sapi, yang datang itu the real bakso dengan mi so’un. Kecewa penonton. Harga baksonya murah, hanya 6000 rupiah. Kalo mi bakso berwujud mi pangsit Mute dan Lia 8000 kalo nggak salah ingat. Selesai makan, pulanglah kami dengan perut kenyang dan hati riang.

Seperti malam-malam sebelumnya, jl. Legian selalu hingar bingar. Begitu juga jalan Poppies 2 yang katanya titik bertemunya backpacker dari seluruh dunia karena terkenal dengan penginapannya yang murah. Poppies 2 macet! Kendaraan tumpuk-tumpukan, turis bule di trotoar pun himpit-himpitan. Kembali merasa asing di negara sendiri. Pemandangan ini tidak selalu saya dapat di Makassar apalagi Kendari. So, nikmati aja jalan di Poppies 2 yang baru ‘hidup’ saat menjelang malam. Tidak lupa ritual khusus setiap malam, beli air mineral 1,5 liter seharga 4000 rupiah dulu di Circle K baru pulang ke losmen.

Tiba di losmen, ritual lain pun nggak boleh dilupakan. Urusan duniawi seperti bayar utang, rapikan barang, ngobrol, ketawa-ketiwi, nyanyi-nyanyi, plesetan garing, bersih-bersih, dibereskan dulu, lalu shalat isya. Kemudian ritual lain, urut betis pake counterpain dan oles aromaterapi di perut baru bobo. Capek tapi so much fun hari ini. Makasih Bali Waterbom. Hari ini impian masa kecilku udah terbayar lunas! Good night Bali.